Lompat ke isi utama

Berita

Lolly Suhenty Dorong Media Tetap Kritis dan Berani Menguji Kinerja Bawaslu

Lolly Suhenty Dorong Media Tetap Kritis dan Berani Menguji Kinerja Bawaslu

Lolly Suhenty saat membuka Media Gathering bertema “Refleksi Kepemimpinan Bawaslu Jelang 5 Tahun” di Pangandaran, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026)

Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat dan Hubungan Masyarakat Bawaslu RI, Lolly Suhenty, mendorong media untuk tetap kritis dalam mengawal kinerja Bawaslu. Menurutnya, hubungan Bawaslu dengan media tidak dibangun untuk mendapatkan pujian, melainkan untuk memastikan kerja-kerja pengawasan dapat diketahui dan diuji oleh publik.

Hal tersebut disampaikan Lolly saat membuka Media Gathering bertema “Refleksi Kepemimpinan Bawaslu Jelang 5 Tahun” di Pangandaran, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026).

“Bawaslu tidak memerlukan pujian media. Yang Bawaslu butuhkan adalah media menjadi kawan untuk mewartakan apa yang dikerjakan oleh Bawaslu. Kalau baik, sepatutnya diapresiasi; kalau kurang, sepatutnya dipertanyakan; kalau keliru, sepatutnya dikritik,” ujar Lolly.

Ia menilai media memiliki posisi strategis dalam demokrasi karena menjadi salah satu saluran utama masyarakat memperoleh informasi. Karena itu, kedekatan antara Bawaslu dan insan pers tidak boleh menghilangkan independensi serta daya kritis media.

“Teman-teman jurnalis itu senantiasa dekat dengan Bawaslu, tetapi tetap in frame. Bersahabat dengan Bawaslu, tetapi tetap punya nalar kritis yang bisa mengkritisi kami. Percaya terhadap Bawaslu, tapi juga tidak ragu untuk menguji kinerja Bawaslu,” tuturnya.

Momentum Refleksi Bawaslu

Lolly menjelaskan, Media Gathering menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan kepemimpinan Bawaslu periode 2022–2027. Menurutnya, refleksi perlu dilakukan secara terbuka dengan melibatkan mitra, masyarakat, dan pihak-pihak yang selama ini bersinggungan dengan kerja pengawasan Bawaslu.

“Yang bisa menilai itu bukan kami. Yang bisa menilai itu mitra-mitra kami, orang-orang yang terhubung dengan Bawaslu, bahkan masyarakat seluruhnya yang memang tekun mengawasi Bawaslu,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Lolly juga menyampaikan sejumlah penguatan Bawaslu, antara lain mendorong pengawasan partisipatif dari sekadar program kelembagaan menjadi gerakan masyarakat serta memperkuat komunikasi publik dan manajemen krisis.

“Bawaslu periode 2022–2027 menggeser pengawasan partisipatif bukan sekadar program, tapi bergerak menuju gerakan,” jelasnya.

Ia menambahkan, penguatan demokrasi juga harus dimulai dari internal lembaga. Menurutnya, demokrasi yang baik harus dibangun tanpa diskriminasi dan kekerasan.

“Demokrasi yang baik adalah demokrasi yang kuat dari dalam dirinya sendiri,” pungkas Lolly.

Melalui forum tersebut, Lolly berharap terbangun refleksi yang jujur, kritik yang konstruktif, serta komitmen bersama untuk memperkuat ekosistem demokrasi Indonesia.