Dari Moderasi Beragama Menuju Demokrasi Beradab, Bawaslu Kota Mojokerto Edukasi Pelajar MAN
|
Nilai moderasi beragama dinilai memiliki keterkaitan erat dengan pembangunan demokrasi yang sehat dan beradab. Hal tersebut menjadi pokok pembahasan dalam kegiatan bertema “Dari Moderasi Beragama Menuju Demokrasi Beradab” yang digelar di MAN Kota Mojokerto, Kamis (10/9/2026).
Kegiatan diawali dengan sambutan Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kota Mojokerto. Selanjutnya, Eko Sismayanto, S.Pd., M.M., Bagian Humas Kemenag Kota Mojokerto, menyampaikan materi mengenai tugas dan fungsi Kemenag serta moderasi beragama.
Eko menjelaskan, Kemenag memiliki tugas mengurus dan melayani urusan keagamaan masyarakat serta mendorong terciptanya kerukunan antarumat beragama. “Moderasi beragama adalah cara beragama yang seimbang, tidak ekstrem, dan menghargai perbedaan antar sesama manusia,” demikian materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Menurut materi tersebut, moderasi beragama dapat diwujudkan melalui sikap toleran, menghindari sikap ekstrem, menghargai budaya lokal, dan mencintai tanah air. Pelajar juga didorong untuk menjaga persatuan serta menghindari ujaran kebencian, khususnya di media sosial.
Materi kedua disampaikan Dian Pratmawati, S.Pd., Ketua Bawaslu Kota Mojokerto, dengan materi “Dari Moderasi Beragama Menuju Demokrasi Beradab.” Dian mengajak pelajar memahami bahwa demokrasi tidak sekadar aktivitas mencoblos, tetapi juga tentang bagaimana menghargai perbedaan pilihan, menyampaikan pendapat, dan menjaga persatuan.
“Demokrasi membutuhkan kematangan yang sama,” menjadi salah satu pesan dalam materi tersebut. Para pelajar juga diajak menjadi bagian dari demokrasi melalui sikap kritis, bijak bermedia sosial, menolak hoaks, serta berani berpartisipasi dalam pengawasan.
Melalui kegiatan ini, Bawaslu Kota Mojokerto bersama Kemenag mendorong pelajar menjadi generasi yang toleran, kritis, dan mampu menghormati perbedaan sebagai bagian dari kehidupan demokrasi.